Lengkap! Contoh Cerpen Singkat Beserta Unsur Intrinsiknya Dan Ekstrinsiknya

Siapa yang tidak mengenal cerpen? Cerpen adalah cerita pendek yang sangat diminati anak-anak dan dari semua kalangan

Cerpen ini cenderung singkat, padat, dan segera pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang jauh lebih panjang, seperti novella dan novel.

Cerpen adalah karangan fiktif yang bisa dibaca dalam waktu sekali duduk selesai dan yang memuat tentang kehidupan seseorang ataupun kehidupan yang diceritakan secara ringkas dan singkat yang berfokus pada suatu tokoh saja.

Cerpen

money.usnews.com

Ada beberapa hal yang harus perhatikan dalam membuat cerpen, yaitu :

  • Tema
  • Tokoh
  • Penokohan
  • Alur
  • Latar
  • Gaya Bahasa
  • Sudut Pandang
  • Amanat

Berikut ini adalah beberapa contoh cerpen singkat yang baik dan benar.

Contoh Cerpen Singkat Terbaik

Contoh Cerpen Terbaik

getsmarter.com

Dibawah ini akan kami sajikan pula cerpen-cerpen singkat terbaik yang bisa kalian jadikan referensi dalam memahami dan membuat cerpen.

Contoh Cerpen Tentang Persahabatan

persahabatan

pixabay.com

Baik Luar Dalam

“Ra, ada Sinta tu di depan nyariin kamu, temuin dulu gih. Dah nungguin dari tadi.” Sahut Tina pada Rara yang sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah Rara.

“Bi, bilang aja aku gak ada, lagi diluar atau di mana gitu.” Pinta Rara pada Bi Inah yang bekerja di rumahnya.

“Iya, Non.”

“Kenapa kamu kaya gitu sama Sinta? Dia sudah datang jauh-jauh tapi malah kamu usir. Dia anak baik lho, Ra.”

“Iya dari luarnya memang baik, manis, ramah. Tapi apa hanya itu saja kamu mengukur sifat seseorang? Dari luar memang manis. Tapi dalamnya pahit.”

“Pahit gimana?”

“Dia sering ngomongin keburukan temannya sendiri di belakang. Banyak pokoknya Tin, yang tidak bisa aku jelaskan.”

“Lihatlah kamu ini. Judes, ceplas-ceplos sama aku. Tapi setidaknya hatimu tulus, Tin, bukan baik di luar tapi dalamnya busuk. Aku gak butuh tampilan luar orang dalam berteman.” Jelas Rara.

 

Contoh Cerpen Tentang Pendidikan

Pendidikan

forbes.com

AYO SEKOLAH

Ketika mentari mulai terlihat merangkak perlahan di ufuk timur, Raodah terlihat bergegas menuju kamar tidur anaknya. Pagi yang disambut kokokan ayam jantan dari segala sudut penjuru kampung membawa dampak janda muda itu makin kelihatan gelisah.

Mengapa tidak, arah jarum jam hampir menunjuk tepat ke angka enam, tetapi anak semata wayangnya itu tak kunjung bangun dari tidurnya. Bukan hanya gelisah, tetapi perlahan raut wajah Raodah terlihat begitu kesal setelah melihat tingkah anaknya yang tak seperti biasanya.

“Udin lekas bangun, udah siang,” begitu kata Raodah setelah tepat berada di tempat pembaringan anaknya itu. Entah masih berada didalam dunia mimpinya, perkataan itu tak digubris Udin.

“Udin ayo bangun, entar anda telat masuk sekolahnya,” kata-kata Raodah sedikit mengoyang-goyangkan tubuh anaknya. Namun, alangkah nikmatnya dunia mimpi, membawa dampak Udin tak kunjung bangun.

Dengkuran udin masih terdengar begitu jelas dikedua telinga Raodah, membuatnya bertambah kesal. Bantal guling yang ada di sisi kanan tubuh anaknya itu diambilnya selanjutnya di pukulkannya ke arah wajah Udin bersama dengan pelan.

“Udiiiin, bangun”. Bukan mendengar, tetapi merasakan hantaman guling ke wajahnya membawa dampak Udin sekejap tersentak bangun. Terlihat sedikit lucu atas respon anaknya membawa dampak Raodah tersenyum mengusir kekesalan hatinya pada anaknya.

“Ah ibu, menggangu mimpi Udin saja,” Ucapan spontan Udin dikala melihat ibunya tersenyum pahit padanya.

“Mimpi, mimpi. Sekarang anda cepat mandi tidak lama waktunya anda masuk sekolah”.

“Sekolah, sekolah lagi. Udin malas masuk sekolah bu. Bosan,” Balas Udin sembari menjatuhkan kepalanya kembali ke bantal. Alangkah kaget hati Raodah, ia tak habis pikir bahwa anaknya bakal bicara seperti itu.

Hampir tak sanggup bicara lagi, setelah melihat tingkah anaknya yang aneh itu. Udin di mata Raodah dikenal sebagai sesosok anak yang pintar dan rajin. Semenjak Udin mengenal dunia pendidikan, nilai prestasi udin terlalu bagus di mata Raodah dan termasuk para gurunya.

“Sudah lah bu, Udin berkenan tidur kembali untuk melanjutkan mimpi Udin berjumpa bersama dengan kakek-kakek tua”. Raodah kembali tersentak kaget mendengar perkataan anaknya seperti itu. Meskipun belum jelas mengapa sikap dan tingkah anaknya berubah drastis, bersama dengan sikap keibuan Raodah, ia kembali bicara pada anaknya,

“Udin, terkecuali anda tak sekolah, lantas anda berkenan jadi apa nantinya”. Mendengar kata-kata ibunya itu, Udin hanya terdiam lantas menutupi kepalanya bersama dengan bantal.

“Lho, kok Udin seperti ini. Apa Udin tidak kasihan sama Ibu,” Raodah coba membujuk Udin, anaknya itu. Seketika pun Udin mengambil keputusan tuk kembali duduk dan menatap Raodah, ibunya.

“Ibu, justru Udin kasihan sama Ibu, agar udin mengambil keputusan tuk tidak ke sekolah. Aku kasihan sama ibu, yang menyekolahkan saya bersama dengan orientasi kelak saya kerja jadi pegawai,” kata-kata Udin membawa dampak Raodah hanya terdiam.

“Coba ibu pikir, terkecuali esok hari nanti saya tidak jadi pegawai, tentu ibu sendiri bakal kecewa. Sebab di pikiran ibu, letak kesuksesan seseorang sekolah itu di ukur seumpama dia jadi pegawai nantinya”.

“Tapi Udin, bagaimana caranya kami bakal mempengaruhi nasib terkecuali anda tidak sekolah. Apalagi bersama dengan bersekolah, anda bakal jadi cerdas. Dan setelah cerdas, bukan hanya nasib di keluarga kami yang sanggup anda rubah, tetapi nasib orang-orang miskin lain pun anda sanggup merubahnya,” kata-kata balas Raodah coba berikan pemahaman pada anaknya itu.

Mendengar perkataan ibunya, udin hanya tersenyum dan capai ke dua tangan ibunya itu.

“Ibu, apa ibu jelas bahwa sekolah itu adalah salah satu bentuk pembodohan pemerintah bagi rakyat miskin seperti kami ini”.

“Udin, maksud anda apa nak,” Raodah sekejap kaget mendengar pengakuan anaknya itu. Sedikit penasaran pun menyelimuti pikirannya.

“Bu, cobalah ibu pikir, udah beberapa tahun ini Udin sekolah. Namun tak sedikit pun kesukaan Udin yang terelisasikan oleh sekolah udin sendiri. Udin hobi bermain Drama, tetapi di sekolah tak dulu mengajarkan kami tentang drama. Yang ada hanya metematika dan bahasa inggris.

Di sekolah termasuk Udin menjadi perhatian, hanya orang-orang kaya yang beroleh pelayanan baik dari guru. Banyak teman-teman Udin yang segolongan bersama dengan kami yang miskin ini, hanya dikomersilkan dari guru-guru.

Dibilang bodoh lah, dicap nakal lah agar membawa dampak kami merasa diasingkan. Jadi sekitar apa untungnya terkecuali Udin masih selalu sekolah,” jelas Udin harusnya orang dewasa.

Demikian yang berjalan pada Raodah yang tak habis pikir, apa yang membawa dampak anaknya jadi seperti itu.

Jarum jam yang melekat di dinding kamar Udin makin berputar, dan udah menyatakan tepat pukul 07.00. Namun, anak dan orang tua itu tak beranjak dari ruangan simple itu. Percakapan masih saja konsisten berjalan membawa dampak mereka terhipnotis seakan tak sadarkan diri.

“Ibu, semalam Udin bermimpi berjumpa bersama dengan kakek-kakek tua. Udin tak jelas siapa. Tapi kakek tua itu memberi tambahan pemahaman padaku tentang suasana pendidikan di kampung kami ini. Udin baru mengerti, ternyata dunia pendidikan di kampung kami ini itu terlalu rusak bu,” lanjut Udin bernada kesal.

“Siapa bilang pendidikan itu rusak nak. Coba lihat, sudah berapa kali Udin mendapat beasiswa dari sekolah sebagai siswa terpandai di sekolah. Jadi jangan berpendapat seperti itu dong nak,” Raodah kembali berikan pemahaman bersama dengan mengusap-usap kepala anaknya itu.

“Nah, itulah salah satu kekeliruan pendidikan bu, hanya siswa cerdas yang diakui dan dibantu oleh pemerintah. Sedangkan bagi siswa-siswa yang bodoh tidak diakui dan tidak diberikan perlindungan semacam beasiswa itu”.

“Tapi itu adalah salah satu langkah pemerintah untuk menaikkan motivasi bagi anak untuk lebih giat belajar lagi,” balas Raodah coba melayani perkataan Udin, anaknya. Namun mendengar pengakuan ibunya, Udin kembali tersenyum.

“jadi di mana letak tugas-tugas pendidikan itu sendiri, yang katanya mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang jadi lebih baik. Dalam mimpi udin semalam, kakek-kakek itu sempat bicara padaku, bahwa pendidikan hanya bakal melahirkan penindas-penindas baru di kampung kami ini bu. Dan itu fakta, dikarenakan mengapa di kampung kami ini banyak pejabat-pejabat korupsi yang merampok uang-uang rakyat.

Itu seluruh efek dari ongkos pendidikan yang mahal. Hmmm, Pokoknya pendidikan itu terlalu rusak lah bu,” Sela Udin coba mengakhiri perdebatannya bersama dengan ibunya.

Mendengar segala perkataan Udin, Raodah tak habis pikir, hanya dikarenakan mimpi anaknya sanggup bicara seperti itu. Raodah heran, tingkah anaknya di pagi itu tak ubahnya tingkah orang-orang dewasa. Hampir tak percaya, dikarenakan Udin masih duduk di bangku sekolah basic kelas tiga.

Menganggap pendapat anaknya tak sanggup ditentang lagi, Raodah mengambil keputusan tuk ikuti arus pikiran anaknya itu agar dia kembali berkenan melanjutkan sekolahnya lagi.

“Baiklah, ibu saat ini jelas apa maksud Udin. Memang pendapat anda semuanya benar. Jadi saat ini ibu berkenan bertanya pada Udin”.

“Apa itu bu,” sepertinya Udin penasaran mendengar perkataan ibunya.

“Jika saat ini Udin prihatin bersama dengan suasana pendidikan, jadi apa Udin berkenan melakukan perubahan pada dunia pendidikan di kampung kami ini,” Raodah coba menjebak anaknya itu.

“Yah maulah bu. Udin berkenan mempengaruhi sistem-sistem pendidikan. Udin berkenan menerapkan proses pendidikan yang tidak berpihak. Udin bakal menghapus yang namanya ujian nasional, agar hak-hak guru sebagai orang yang jelas tingkat kecerdasan muridnya itu sanggup kembali lagi,” kata-kata Udin yang terdengar seakan bermain-main bersama dengan imajinasinya sendiri.

“Nah, sekitar bersama dengan langkah seperti apa yang bakal membawa dampak Cita-cita Udin seperti itu sanggup tercapai,” Raodah kembali bertanya pada Udin.

“Yah, bersama dengan langkah bersekolah yang baiklah bu,” kata Udin sedikit memotong percakapan ibunya.

“Itu kan,,, Udin sendiri memahami, bahwa bersekolah itu kami sanggup mewujudkan cita-cita kita. Tapi mengapa saat ini ini, Udin sendiri tak berkenan pergi sekolah. Gimana caranya,” Raodah seakan mengejek anaknya, tetapi sekedar mengembalikan pemahaman Udin seperti sedia kala.

“Oh iya, lho kok Udin sanggup lupa sih. Jika Udin tak sekolah, sama halnya saya merelakan diri untuk dibodohkan oleh orang lain,” Udin seakan baru terbangun dari ketidak sadarannya.

“Nah itu baru anak ibu. Berhubung jam baru menyatakan pukul setengah delapan, lekas mandi. Setelah itu, Udin berangkat sekolah untuk merampok Ilmu pengetahuan,” Gumam Raodah berikan stimulus pada anak semata wayangnya itu.

“Baiklah, pokoknya kelak, Udin bakal memengaruhi kampung kami ini bersama dengan hasil perjuangan Udin nantinya”. Mendengar pengakuan Udin, Raodah sekejap tersenyum simpul selanjutnya memeluk erat anaknya itu.

“Yah sudah, lekas mandi”. Raodah melewatkan pelukannya, agar Udin sekejap bersemangat dan langsung beranjak meninggalkan tempat tidurnya.

Melihat tingkah anaknya yang bercerita lucu, Raodah kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Di sisi lain, Raodah pun merasa lega, selanjutnya efek kakek-kakek yang ditemui Udin didalam mimpinya sanggup terhapuskan kembali.

Ia takut, terkecuali efek kakek-kakek itu konsisten tertanam di fikiran anaknya, kelak anaknya itu tak bakal bercita-cita jadi pegawai negeri lagi. Sebab difikran Raodah, anaknya diakui sukses terkecuali sanggup capai predikat yang namanya PNS.

Sebagai ibu yang mendambakan melihat anaknya berhasil, Raodah kembali bernafas lega setelah beberapa menit ia sempat cemas bersama dengan ciri-ciri kekritisan anaknya yang begitu cepat.

Akhirnya, ia mengambil keputusan untuk merapikan tempat tidur Udin yang terlalu berantakan. Namun, setelah beberapa detik merapikan tempat tidur anaknya itu, ia kembali dikagetkan bersama dengan kata-kata Udin yang kembali menemui ibunya yang masih berada didalam kamar.

“Bu, tetapi setelah Udin pikir-pikir, terkecuali Udin selalu sekolah dan selanjutnya saya cerdas, apakah saya tidak bakal jadi penindas-penindas baru di kampung kami ini. Udin sepertinya ragu bu bakal seluruh itu”.

Mendengar perkataan Udin yang mengagetkan, Raodah hanya terdiam dan tak sanggup bicara apa-apa lagi. Ruangan simple itu kembali sepi. Anak dan ibu itu semuanya membisu. Sepintas berlalu, bayangan kakek-kakek yang ada didalam mimpi Udin itu kembali terlihat melintas di depan mata. Lalu, semuanya kembali terdiam.

— Bersambung —

 

Contoh Cerpen Tentang Anak Sekolah

Pendidikan Anak Sekolah

unicef.org

Rajin Belajar

Hari Senin yang cerah. Setelah anak-anak upacara bendera, mereka menuju kelasnya masing masing untuk mendapat mata pelajaran dari guru. Hari ini ada mata pelajaran matematika, Bahasa indonesia, Bahasa Jawa, dan PPKN.

Mata pelajaran pertama adalah matematika. Ibu guru menyuruh untuk mengerjakan halaman 5 sampai 6. Suasana kelas nampak hening ketika para siswa sedang mengerjakan soal. Kemudian setelah selesai, bu guru berpesan untuk mempelajari materi perkalian dan pembagian dengan soal cerita karena sewaktu-waktu bisa diadakan tes dadakan.

Setelah selesai mendapat pelajaran di sekolah, para siswa pulang. Tika, Dwi, dan Rima pulang bersama jalan kaki karena jarak rumah mereka yang tak jauh dari sekolahan.

“Habis makan siang nanti kita bermain yuk. Di rumahku ada boneka baru yang dibelikan ibuku dari Bandung.” Pinta Rima pada kedua sahabatnya.

“Asyik.” Ucap Dwi dengan penuh kegembiraan.

“Gimana, Tik, kamu bisa ikut tidak?”

“Aku tidak ikut saja. Mau belajar di rumah karena tadi kan ibu guru berpesan untuk belajar karena siap-siap jika ada tes dadakan.” Sanjang Tika dengan polosnya.

Sesampai di rumah masing-masing, Tika langsung ganti baju, makan siang, sholat, kemudian istirahat siang sehingga malamnya dia bisa belajar dengan tenang dan konsentrasi. Sesekali dia bertanya kepada kakaknya jika kurang paham dengan materi di buku.

Sedangkan Dwi dan Rima bermain boneka sampai larut sehingga tidak sempat mempelajari materi. Keesokan harinnya mereka berangkat bersama dan sesampai di kelas ternyata memang ada tes dadakan. Dwi dan Rima merasa kesulitan dalam mengerjakan soal dan akhirnya nilainya jelek sehingga harus mengulang tes susulan.

Lain halnya dengan Tika. Dia mendapat nilai terbaik di kelas karena dia sudah belajar dengan rajin sesuai nasehat gurunya. Ibu guru meminta agar Dwi dan Rima belajar dengan temannya, Tika.

“Wah, Tik, selamat ya, nilaimu 10. Besok kita ikut belajar denganmu ya.” ucap Rima pada Tika.

 

Contoh Cerpen Tentang Cinta

Cerpen Cinta

inc.com

Takdirlah Sutradaranya

Andai kau menyatukan sepasang kasih, tiada ada luka menyayat lara, tiada ada puitis punya kandungan dusta tiada ada air mata terbuang percuma, tiada ada hidup berakhir sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa memanggil cinta?

Takdir, kutulis kisahku menyentuh ibamu, menghendaki kau satukanku bersama dengan kasihku.

Disepertiga malam, jaman seakan berhenti. Seakan semua terkesima mendengar munajatku yang memohon bakal cinta.

Kasihku berawal berasal dari perjumpaanku bersama dengan Rahman, saat ia jadi guru ngajiku.

Rahman istimewa. Ia tuli berasal dari kata tak bermakna, ia bisu berasal dari ucapan kotor berasal dari bibirnya, ia lumpuh berasal dari jalur mungkar. Ia hafidz. Ia nyaris sempurna. Namun, penglihatan diambilNya, supaya ia tak terlena oleh kegelimangan dunia fana.

Aku mencintainya.

Suatu hari, Rahman meminangku. Aku bahagia, sampai aku lelah sendiri supaya semesta tau tentang bahagiaku.

Namun kenyataan menumbuhkan ego, saat orangtuaku menampik Rahman, bahkan mencacinya.

“Dasar orang buta! Mau kau kasih makan apa anakku. Hidupmu saja di panti asuhan. Mau kau ajak ngemis nantinya he…”

Cinta. Aku kalap. Orang tuaku murka sampai menumbuhkan penyakit ginjal didalam diriku.

“Jika kita berjodoh, Insyaallah kita bakal bertemu sebagai pasangan yang hahal La.”

Ingin hati memeluknya. Menangis, bercerita bakal hidupku yang rapuh digerogoti asa yang terlanjur bahagia.

“Aku mencintaimu Mas.”

“Aku pun tetap mencintaimu La. Tapi, simpanlah cinta itu untuk pasangan kita kelak.”

“Mas…” aku menunduk. Pandanganku kabur. Gelap.

Nyeri menusuk igaku. Tarikan nafas seakan mencekikku. Setelah operasi ginjal tiga hari lalu, aku siuman.

Sebuah mukena dan tape recorder ada di sebelah daerah tidurku.

“Laila terkasih…

Telah kuterima ketulusanmu bersama dengan cintaku. Jaga hatiku Laila. Perkenalan denganmu adalah bahagiaku, aku pergi bersama dengan tenang, kutunggu kau di surga, bersama dengan kebahagiaan cinta kita. Insyaallah.”

Aku terseok mengejar saat membawa Rahman pergi. Menghampiri hujan duwit serasa menjahit kulitku.

Kejam!! Takdir… Kemana kau bawa Rahman? Aku mendambakan kebersamaan, bukan ginjal…

Sebuah truk melaju kencang. Aku mematung di sedang jalan. Biar kuakhiri semua disini. Aku siap. Rodanya melaju semakin dekat. Aku memejamkan mata dan… terus itu menembus tubuhku.

Tubuhku terlihat samar. Terasa mudah terangkat ke udara. “Kau tak harus melakukan itu Ukhti.” nada Rahman lembut, selanjutnya menggandeng tanganku menuju titik terang.

Siti menangis tersedu di atas makam putrinya, Laila. Operasi yang dijalani anaknya gagal. Penyesalannya adalah anaknya meninggal didalam suasana kecewa bakal cinta yang ditentangnya. Ia hanya sanggup meratap penuh penyesalan.

“Maafkan ibu nak. Semoga kau suka di surga bersama dengan Rahman…” doanya.

 

Contoh Cerpen Pengalaman

Cerpen Pengalaman

dictio.id

Kartu ATM ku

“Sekarang menggunakan kartu ATM kalian!”, perintah Bu Nisa, guru Agama kami.

ATM itu singkatan dari Aku Tidak Menyontek. Untuk mendapat kartu itu kami harus mematuhi sebuah peraturan, yaitu tidak menyontek. Kartu ATM dipakai kala ulangan dan kala latihan. Tapi, saya tidak mempunyai kartu ATM, sebab saya orangnya tidak pandai dan malas belajar.

Akhirnya, ulangan pun dimulai. Aku mengerjakan soal-soal itu. Tapi, nomer 1, 3, 4, 7 dan 9, saya kesulitan. Kulihat ke sampingku untuk bertanya. Sayangnya ia memakai kartu ATM. Kulihat ke arah lain. Mereka termasuk memakai kartu ATM.

Bu Nisa tersenyum melihatku. Akhirnya, saya pun menanyakan ke Varia bersama dengan mengancam kalau tidak jawab, ia tidak bakal boleh pulang denganku. Tapi, ia menyatakan kartu ATMnya. Aku mulai mulai kesal. Aku pun menjawab soal itu bersama dengan asal-asal.

Saat Pulang…

Aku langsung berlari ke mobil Ayah. Aku biarkan Varia mencariku. Biarin aja dia mencariku. Siapa suruh ia tidak memberiku jawaban. Aku pun memasuki mobil Ayah. Kak Fani, kakak perempuanku, telah berada di dalam mobil.

“Varia mana, Len?”, tanya Ayah. “Mana saya tahu”, ucapku sambil menyaksikan ke arah Ayah.

“Kita menunggu aja, ya”, kata Ayah.

Aku benci mendengar Ayah bicara begitu. Kulihat Varia mengakses pintu mobil bersama dengan muka pucat dan penuh bersama dengan keringat.

“Kamu kenapa tinggalin aku, Len?”, tanya Varia.

“Siapa suruh tadi kamu begitu”, ucapku bersama dengan suara sedikit kasar.

“Varia, kamu menggunakan kartu ATM juga?”, tanya Kak Fani.

“Iya, Kak”, jawab Varia. “Kakak termasuk ada”, kata Kak Fani sambil menyatakan kartu ATMnya.

“Kartu ATM itu apa?”, tanya Ayah.

Kak Fani dan Varia mengatakan kartu ATM kepada Ayah. Aku hanya terduduk diam memandangi jendela. Setelah selesai menjelaskan, Ayah pun mengerti.

“Wah… Helen ada?”, tanya Ayah. “Nggak ada, Yah”, jawabku menundukkan kepalaku.

“Kamu tahu, gak, Len? Kalau turut ATM, kami bakal bisa kelebihan, loh”, kata Varia sambil menyodorkan sebuah kertas.

“Wah… Aku senang ikut, Var. Besok saya daftar, deh mirip Pak Stanlius. Kamu temeni aku, ya, Var”, ucapku tersenyum sesudah membaca kertas itu. “Ok”, kata Varia.

 

Contoh Cerpen Lucu

Cerpen Lucu

facebook.com

Scrub Gula Pasir

Di siang hari, Keke sedang berbincang – bincang dengan Rosa dengan begitu asyiknya.

“Ros, menurutmu Dion itu suka tipe cewe yang seperti apa sih?”

“Em, apa ya? Setahuku dia gak muluk-muluk sih, suka sama cewe yang alami apa adannya.” Jelas Rosa.

“Jadi gak suka sama cewe bergincu gitu dong?” Tanya Keke.

“Ya seperti itu mungkin.”

“Lalu apa dong yang membuat bibir merah tanpa lipstik?”

“Coba saja pake scrub gula pasir setiap malam, bibir akan merah merona secara alami.”

“Oya?”

”Baiklah akan kucoba nanti malam demi mendapat cinta sang pangeran. Hahaha.”

“Seminggu lagi ada acara festival tuh di kampus, coba saja scrub-an rutin setiap malam.” Sambung Rosa.

“Benar juga ya. Nanti harus tampil maksimal di depan sang pangeran.” Tukas Keke mengiyakan. Beberapa hari sudah lewat. Di hari sebelum acara, Keke tampil seperti yang dikatakan Rosa. Ketika melihat Keke, Rosa terkaget-kaget.

“Ada apa dengan bibirmu? Kenapa merah sekali? Berapa kilo gula yang kau gunakan? Itu sensual apa bonyok ya?” Tanya Rosa terheran.

“Ini akibat gigitan semut setiap malam tau, sampai sesensual dan semerah ini, benar-benar pengorbanan.” Jawab Keke.

“Oh My Good”.

 

Contoh Cerpen Tentang Kehidupan Sehari hari

Cerpen kehidupan sehari-hari

time.com

Tak Konsisten

Suara alarm begitu keras mengusik tidur Joni yang begitu terlelap. Dia masih menggeliat menahan rasa kantuk. Kemudian perlahan membuka matanya.

“Oh Tuhan!” Joni terkaget melihat jam ternyata pukul 7 pagi. Dia langsung bergegas mandi dan merapikan diri lalu tancap gas untuk pergi ke kantor. Sesampai di kantor, dia sudah telat menghadiri meeting yang diajukan dari jam biasannya karena bosnya akan segera ke luar kota.

“Permisi, Pak. Bolehkah saya masuk?” Tanya Joni pada bosnya yang sedang memimpin meeting.

”Silahkan duduk, Jon, tapi maaf hari ini proyekmu digantikan Hamid.”

“Tapi kenapa, Pak? Saya hanya telat sebentar.”

“Bukan masalah sebentar atau lama. Kita di sini para pekerja profesional. Project itu sudah lama saya percayakan padamu tapi kamu ternyata tidak bisa konsisten. Walaupun telat sebentar, ada temanmu yang bisa memberi ide bagus untuk proyek itu. Jadi maaf, sudah bagus kamu tidak saya keluarkan dari tim.” Jelas bosnya dengan tegas.

Langsung seketika Joni terdiam dengan wajah pucat. Setelah meeting selesai joni pergi menuju meja kerjanya.

“Ada apa hari ini, Jon? Kamu sampai telat tak seperti biasannya.”

“Ini salahku, Mer. Aku begadang nonton bola sampai larut malam, sampai lupa kalau ada project penting dan seharusnya menguntungkan bagiku.”

“Oalah makanya utamakan profesi dari pada hobi.” Sambung Meri sedikit menasehati.

 

Contoh Cerpen Singkat Beserta Strukturnya

Cerpen dan strukturnya

ogochukwupromiseblog.com

Arin dan Mimpinya

Arin berasal dari keluarga yang cukup harmonis yang terdiri dari ayah ibu dan dengan 2 anak perempuan mereka yaitu Arin dan Raty. Karena keterbatasan dana, sejak SMP Arin sudah bersekolah jauh dari orang tuanya.

Dia tinggal bersama saudara dikeluarga ibunya. Seringkali ia merasa ingin bersekolah bersama keluarga, ibu, ayah dan 1 adiknya. Tapi sayangnya, ia sudah terlanjur meminta kepada orang tuanya untuk tinggal dan bersekolah dengan bibinya yang tinggal sangat jauh dari tempatnya berada.

Tiga tahun sudah berlalu, Arin meminta kepada orangtuanya supaya setelah lulus SMP ia melanjutkan kesekolah negeri dekat dengan orang tuanya. Permintaan itu dikabulkan oleh ibunya tetapi ayahnya sedikit keberatan. “kenapa kamu pindah, Rin ? apakah ada masalah di sekolahmu sehingga kamu ingin pindah?” tanya ayahnya. “Tidak yah, Arin ingin pindah sekolah karna Arin ingin mencari pengalaman lebih banyak lagi di sekolah lain” jawab Arin.

“Lalu bagaimana dengan bibi mu, apakah dia setuju dengan keputusanmu itu?” tanya ayahnya. Dengan berat hati Arin menjawab, “Aku belum bicara kepad bibi, tetapi pasti aku akan mengatakan padanya segera”

Arin sebenarnya tahu jika orang tuanya merasa keberatan bukan karena dia harus tinggal bersama bibinya. Namun karena mereka tidak mampu untuk mensekoahkan Arin di sana. Arin pun bimbang dan ragu. Di satu sisi dia ingin kumpul lagi bersama orang tuanya, di sisi lain dia tahu ayahnya tak punya uang untuk menyekolahkannya. Hari demi hari berlalu, Arin semakin rindu kepada keluarga kecilnya. Tak jarang dia selalu menangis hingga larut malam.

Bibi Arin pun menyadari apa yang Arin rasakan saat ini. “Kamu kenapa nak?” tanya bibinya. “Aku baik-baik saja kok bulek, aku hanya sedang kelelahan,” jawab Arin.

Sebenarnya Bibinya pun sudah mengetahui apa yang sedang Arin rasakan tetapi dia tak mau menambah beban Arin saat ini. “Nak bibi akan selalu mendoakanmu, Bibi juga akan selalu mendukung apa yang ingin kau lakukan, berusahalah dengan giat untuk mendapatkan keinginanmu,” nasehat bibinya.

Setelah mendapatkan nasehat itu, Arin menjadi semangat. Meskipun Arin belum membicarakan masalah kepada bibinya, dia tahu bahwa bibinya akan selalu mendukungnya.

Beberapa hari setelah itu, Arin mendapat kabar bahwa sekolah SMAN 1 Bumi Putera di dekat rumah orang tuanya mengadakan lomba pidato dan pemenangnya akan diterima bersekolah disana dan mendapatkan beasiswa. Arin pun mengikuti lomba pidato itu dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Dia pun memberitahukan kabar gembira itu kepada orang tua dan Bibinya.

Pada awalnya mereka belum menyetujuinya. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Arin, akhirnya permintaannya diperbolehkan oleh orangtua dan bibinya. Tapi sayang, pihak sekolah sempat menahan Arin karena prestasi-prestasi dari dirinya.

Sekolah tidak mengizinkan Arin pindah ke SMA lain karna ia membawa prestasi cemerlang. Tetapi setelah mendesak kepala pimpinannya, akhirnya Arin diperbolehkan pindah. Ia sangat senang sekali. Ia juga sedih ketika ia berpamitan dengan teman-temannya yang sayang padanya. Arin berpesan kepada teman-temannya untuk selalu semangat dan giat dalam belajar dan juga tidak melupakannya.

Ketika masuk tahun ajaran baru, Arin pun bisa kembali berkumpul bersama orang tuanya. Ia berkumpul bersama ayah, ibu, dan adiknya. Rasa rindu yang sangat mendalam dapat berkumpul bersama keluarga walaupun makan dengan lauk sambal akan terasa lebih nikmat bila berkumpul bersama.

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen “Arin dan Mimpinya”

  1. Tema : Kebersamaan keluarga
  2. Latar
  • Tempat : Rumah bibinya, Sekolah Arin, Rumah Arin
  • Suasana : Sedih (Tak jarang dia selalu menangis hingga larut malam), Bahagia (Dia pun memberitahukan kabar gembira itu kepada orang tua dan Bibinya), Haru (Ia juga sedih ketika ia berpamitan dengan teman-temannya yang sayang padanya)
  • Waktu : Malam (Terbukti saat Arin menangis karena rindu keluarganya), Pagi hari (Terlihat ketika Arin mengikuti lomba pidato dan berpamitan kepada temannya)
  1. Alur : Maju
  2. Tokoh: Arin (Antagonis), Bibi dan Ayah (Tritagonis), Tidak ada tokoh antagonis karena konflik yang terjadi adalah konflik batin tokoh utamanya
  3. Penokohan:
  • Arin : Penyayang, Pintar, Berkemauan tinggi,
  • Bibi : Penyayang, Baik
  • Ayah : Pesimis, Baik
  1. Sudut pandang : Orang ke tiga tunggal
  2. Gaya Bahasa : Pengarang menyampaikaan ceritanya dengan bahasa yang mudah dimengerti tanpa kiasan sehingga cerita mudah dimengerti
  3. Amanat: Jangan menyerah dengan keadaan karean setiap masalah pasti ada jalan keluar
  4. Nilai-nilai dalam cerita
  • Moral : Saat tokoh Bibi mendukung apa yang akan dilakukan oleh Arin.
  • Perjuangan : Saat Arin tak berputus asa dengan nasibnya.
  • Kekeluargaan : Saat Arin berkumpul bersama keluarganya.
  1. Latar belakang penulis

Penulis menjumpai beberapa fenomena di masyarakat tentang terpisahkannya keluaraga akibat keadaan. Fenomena ini banyak terjadi di masyarakat, oleh karena itu penulis ingin menginspirasi semua masyarakat khususnya yang memiliki keadaan yang sama untuk terus berjuang karena setiap ada masalah pasti ada jalan keluar.

 

Demikianlah sedikit mengenai contoh singkat beserta unsur-unsur Intrinsiknya, yang bisa kalian jadikan referensi dasn acuan dalam mebuat cerpen. Terima kasih semoga bermanfaat 🙂

 

Leave a Reply